Berdasarkan sebuah suvei pemerintah yang dilaporkan dalan Today
Show, 13 November 2015 lalu. Estimasti terbaru autisme pada anak menjadi 1 dari
45 anak. Peningkatan tajam ini berubah dari estimasi sebelumnya, yakni 1 dari
68 anak. Artinya, lebih dari dua persen anak di Amerika secara mungkin
mengalami gejala autisme
pada anak.
Alasan penyebab
autisme pada anak secara
siginifikan juga turut dikatakan oleh Centers for Disease Control yang akhirnya
merujuk pada kunci hasil survei. Para orangtua
lebih spesifik diminta untuk lebih memperhatikan sekaligus merawat kesehatan
anak sejak dalam kandungan.
“Satu dari 45 anak secara akurat dikabarkan berisiko mengalami
autism. Suvei dilakukan untuk mengumpulkan hasil kesimpulan oleh lebih dari
35.000 keluarga yang memiliki anak usia 3 sampai 17 tahun,” ujar Benjamin
Zablotsky, epidemiolog di National Center for Health Statistics.
Natalie Azar, kontributor medis dari NBC News juga menambahkan
bahwa metodologi survei terbaru menjadi alasan terkuat meningkatkan diagnosis
autisme pada anak. Ketika satu dari 68 anak mungkin mengalami gejala autisme
maka didasarkan pada catatan medis serta perkembangan fisik dan mental sang
anak.
“Ini adalah laporan kesehatan pasien yang menjadi tolok ukur
bagi studi. Penyebab anak menjadi autisme meningkat dari kelainan spektrum
maupun masalah di perkembangan fisik serta otak,” papar Natalie.
Lebih lanjut, kasus autisme pada anak telah meningkat sejak 15
tahun terakhir. Berdasarkan data yang dirilis oleh CDC, prevalensi dari
kelainan autism yang semula hanya 1 dari 150 anak di tahun 2000 menjadi 1 dari
45 anak di tahun 2015 ini.
“Fenomena yang sangat mengejutkan memamg. Penambahan angka
secara dratis tersebut amat menyeramkan. Ini harus segera ditindaklanjuti untuk
kesehatan generasi penerus,” kata Michael Rosanoff, direktur Kesehatan Publik
dari The Advocacy Group Autisme Speaks.
Michael sangat menyarankan pendampingan serta sosialisasi topik
autism pada anak secara menyeluruh dan intens bagi keluarga, khususnya
orangtua.
Kelainan autisme
pada anak secara dini
bisa ditandai dengan gejala afeksi pada interaksi sosial, cara berkomunikasi
verbal dan non-verbal pada anak, serta tingkah laku dan ketertarikan anak pada
suatu objek.
Sumber: Momtastic
Baca selengkapnya »

