Anak autisme memiliki ciri utama
kesulitan berinteraksi sosial. Memelihara hewan menurut sebuah penelitian bisa
membantu anak-anak autisme belajar berkomunikasi dan mengembangkan kemampuan
sosialnya.
“Beberapa orang tua yang memiliki
anak autisme mengatakan berinteraksi dengan binatang peliharaan dapat membantu
anak-anak mereka bersosialisasi, tetapi saat itu belum ada penelitian yang
meneliti hal tersebut secara ilmiah,” kata Alycia halladay, direktur riset
lingkungan di Autism Speaks. “Bukti-bukti dalam penelitian ini menjawab apa
yang telah diceritakan oleh para orang tua,” imbuhnya.
Menurut Hallafay, terapi untuk
membantu anak autisme saat ini lebih difokuskan untuk mengembangkan
keterampilan sosialnya. Ia mengungkapkan, beberapa anak austime diketahui mampu
berteman dengan anjing peliharaan, tetapi ditujuan untuk mengatasi keterbatasan
seperti gangguan saraf motorik atau gangguan pendengaran. Sampai saat ini
memelihara hewan belum ada yang ditujukan sampai tahap sosialisasi.
Untuk melihat sejauh apa manfaat
binatang peliharaan bagi anak-anak dengan gangguan autisme, peneliti
membandingkan interaksi sosial anak-anak autisme dalam tiga kategori. Pertama,
keluarga yang tak pernah memiliki binatang peliharaan, kedua sebuah keluarga yang
memiliki binatang peliharaan sejak anak mereka lahir, dan ketiga keluarga yang
memutuskan memiliki peliharaan setelah anak berusia 5 tahun.
Dari total 260 individu dengan
autisme yang diteliti, peneliti sangat tertarik pada hubungan sosial saat
anak-anak berumur empat – lima
tahun, karena di masa ini gangguan sosial mencapai puncaknya.
Dari 36 pengukuran, responden yang
memiliki binatang peliharaan setelah mereka lahir memiliki angka paling tinggi
untuk penilaian “kepedulian” dan “kenyamanan” setelah memiliki peliharaan
selama beberapa tahun. Namun, dalam
penelitian tersebut menyimpulkan antara IQ para responden dan dampaknya
memelihara binatang peliharaan tidak saling berhubungan.
“Keuntungan memiliki binatang
peliharaan bagi anak-anak dengan gangguan autisme tidak terkait dengan seberapa
seriusnya autisme itu sendiri,” kata peneliti Marine Grandgeorge, peneliti
klinis Pusat Penelitian Austime di Academic Hospital di Brest, Perancis.
Grandgeorge menilai, peran binatang
peliharaan mungkin sebagai pengalih. “Ketika manusia berada dalam situasi
tertekan, kadang binatang peliharaan menjadi stimulus untuk mengalihkan
tekanannya,” jelasnya.
Kemungkinan lainnya, binatang
peliharaan dapat membantu anak-anak belajar bagaimana meningkatkan komunikasi
lewat simbol dan isyarat, anak-anak pun menyesuaikan diri dalam prilakunya.
Dampak positif lain dari memelihara
binatang adalah memperkuat hubungan dalam keluarga. “Kebanyakan keluarga yang
punya peliharaan memiliki kuantitas dan kualitas waktu bersama dan meraka merasakan
kebahagian. Rasa ini sangat positif efeknya untuk individu dengan autisme,”
ujarnya.
Kendati begitu, tidak semua anak yang memilihara hewan mampu mengembangkan kemampuannya bersosialisasi. menurut Grandgeorge, ada pasiennya yang sangat fokus pada kucing sepanjang waktu. Kecintaannya pada kucing itu justru menjadi sumber kegelisahannya saat ia berpisah dengan si kucing.
Sumber : Kompas.com
Baca selengkapnya »
Kendati begitu, tidak semua anak yang memilihara hewan mampu mengembangkan kemampuannya bersosialisasi. menurut Grandgeorge, ada pasiennya yang sangat fokus pada kucing sepanjang waktu. Kecintaannya pada kucing itu justru menjadi sumber kegelisahannya saat ia berpisah dengan si kucing.


